Uang Memang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Butuh Uang …

Share on facebook
Share on linkedin
Share on google
Share on whatsapp

Peribahasa atau “the word of wisdom”, harus disikapi secara arif dan bijak, Kalimat kalimat indah , jangan sampai membius kita, sehingga salah menentukan arah hidup.

Salah alamat, bisa merusakan sebuah rencana, Salah menentukan arah hidup, bisa membawa seluruh keluarga kita dalam kesengsaraan.

Oleh karena itu ,hendaknya kalimat kalimat indah,yang dikemas begitu piawai, hendaknya selalu ditempatkan tak lebih dari sekedar sebuah masukan atau sebuah :” Option” .Kata :” Option atau optional” jelas menegakkan sebuah garis lurus, bahwa kata kata bijak , jangan sampai disikapi secara berlebihan,

Yang paling sering kita dengarkan adalah:”

Uang bukan segala galanya dalam hidup ini dan uang juga bukan nomor satu yang terpenting”

Ada sepotong kebenaran di dalam kalimat ini, bahwa memang uang bukan segala galanya:

  • Memiliki uang belum tentu membahagiakan diri dan keluarga
  • Memiliki uang bukan juga berarti semua masalah bisa diselesaikan serta merta
  • Dengan uang, kita hanya dapat membeli kesenangan, tapi bukan kebahagiaan
  • Dalam kondisi tertentu, uang tidak lagi berarti apa apa, terjadi perpecahan dalam keluarga

Namun, jangan lupa, bahwa kebenaran yang tampak secara kasat mata, bukanlah sebuah kebenaran yang hakiki. Ada hal hal lain, yang perlu dipahami, bahwa :

“Segala sesuatu dalam hidup ini butuh uang”  …

Suka ataupun tidak, ini adalah sebuah fakta dan realita, Fakta tidak selalu selaras dengan alur pikiran manusia,bahkan fakta terkadang bertabrakan dengan idealisme yang sudah mendarah daging.

Disinilah kedewasaan dalam cara berpikir dan bersikap kita dituntut, untuk secara arif dan bijak membedakan, mana hal yang patut dijadikan pegangan, mana yang perlu menengok situasi dan kondisi.

Pikiran Mendahului Realita …

Membayangkan pensiun duduk di kursi goyang sambil mangku cucu? Itu sudah kuno,sebuah paradigma atau cara berpikir yang sangat keliru, Yang akibatnya menciptakan manusia manusia lanjut usia yang patut dikasihani, Menjadi manusia yang kehilangan hasrat hidup dan hanya menunggu dikasihani anak cucu.Alangkah menyedihkan hidup seperti ini.

Hidup tanpa aktivitas, akan menjadi jenuh dan tidak bernilai. Kita boleh saja melambungkan angan kita setinggi bintang dilangit,tetapi jangan lupa bahwa kita hidup di alam yang bersifat dinamika. Hidup itu selalu bergerak dan sehebat apapun seseorang, tidak ada manusia yang mampu menggenggam kehidupan dalam genggaman tangannya.

Hidup bergerak dari waktu ke waktu dan dari satu sudut ke sudut lainnya. Siapa saja yang hidup statis dan bersikap menunggu, maka ia akan terlibas oleh arus kehidupan .Hidup tidak selalu lemah lembut, Hidup tidak dapat memilah dan membedakan mana orang muda dan mana orang tua,semua diperlakukan sama.

Tidak jarang hidup itu keras dan bengis, serta tidak berbelas kasih. Betapapun seorang anak manusia meratapi nasibnya, yang sudah terlanjur buruk, tidak akan mengubah apapun.

Jangan memanjakan diri secara keliru dan menanamkan dalam diri bahwa :

  • saya sudah tua,
  • sudah patut pensiun
  • dan hidup bersantai ,
  • sambil duduk di kursi goyang

Sesekali memanjakan diri, duduk santai di teras rumah ,sambil menikmati secangkir kopi ,tentu saja hal yang sangat wajar dan baik. Kalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain bisa menghargai.

Namun membiarkan pikiran terbius,bahwa hidup itu akan enak selamanya, adalah sebuah kesalahan,yang kelak akan diratapi selamanya. Kitalah yang menggiring masa depan kita, sesuai dengan apa yang kita rancang dan yakini. Karena pikiran mendahului suatu realita. Karena itu perlu sesekali melakukan introspeksi diri, agar jangan sampai salah menentukan arah hidup kedepan.

Konsep Hidup Tergantung Dari Pikiran Yang Mengendap …

Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun. Hanya sekedar berbagi pengalaman hidup sendiri dan juga belajar dari pengalaman hidup orang lain.

Memutuskan sesuatu.apalagi hal itu tidak hanya menyangkut harkat hidup kita pribadi, tetapi juga akan membawa dampak pada kehidupan keluarga dan anak cucu kita. Alangkah lebih baik, bila kita mempertimbangkan secara bijak.

Kita boleh saja mengatakan,bahwa kita bukanlah tipe manusia yang “money oriented”. Namun sekali lagi jangan lupa,tanpa uang ditangan,maka kita akan terbelenggu di kursi duduk kita. Karena realita tak terbantahkan adalah bahwa apapun yang akan dilakukan,semuanya butuh uang.

Konsep hidup masa depan, maupun konsep hidup yang akan dijalani dalam menikmati masa pensiun, diciptakan oleh pikiran yang kita endapkan di pikiran kita. Oleh karena itu, idealisme yang bersarang dalam pikiran kita, perlu diselaraskan dengan kenyataan hidup,bahwa realita tidak menuruti alur ilmu matematika. Karena ia memiliki jalur dan konsepnya tersendiri, yang terselubung secara misteri dalam ilmu kehidupan.

Mungkin saja, orang yang lulus dengan predicate: 

“magna cumlaude atau summa cumlaude” disalah satu universitas paling beken di dunia, tidak lulus dalam ujian hidup yang tampak sederhana, namun perlu proses pembelajaran diri, untuk dapat menguasainya.

Semoga kita semuanya lulus dengan nilai terbaik dalam setiap ujian di Universitas Kehidupan.

Petikan dari: Bapak Tjiptadinata Effendi
 
Semoga bermanfaat buat pembaca blog BORNEO …

 

adm168borneoid

adm168borneoid

Leave a Replay

BORNEO GROUP

Perusahan Indonesia yang sedang pesat berkembang di seluruh kota kota dan membentuk pengusaha muda.

Recent Posts

Official FB Page

Our Corporate Video

Play Video

Enquiries . . .

Sign up for our Newsletter

By submitting, you are giving us the permission to sent you our regular updates to your email address.